12 Januari 2001, sampai saat ini saya tidak pernah lupa kejadian yang menimpa saya saat itu.
Waktu itu saya masih berprofesi sebagai seorang pebasket. Saya menyebutnya profesi pekerjaan karena memang saat itu pekerjaan saya berlatih sehari 2 kali pagi dan sore. Tanggal 12 Januari 2001 saya sedang berlatih sore hari. Setelah melalui serangkaian drill yang dilatih oleh pelatih dari Cina Mr. LI Su Zhao yaitu fisik, teknik, dan kerjasama tim akhirnya tiba pada sesi terakhir yaitu game. Saat itu kondisi tim sedang dalam kondisi prima karena awal tahun itu kita dipersiapkan untuk menghadapi serangkaian pertandingan. Kira-kira pertengahan game saya mengalami cidera cukup parah yang membuat saya shock secara fisik dan mental. Waktu itu sedang ada perebutan bola diudara (rebound) yang kira-kira 90 persen sudah dalam penguasaan saya. Namun teman se-tim saya I Made Sudiadnyana (Lolik) berusaha memukul bola itu karena menurut perhitungan dia bola itu akan direbut lawan (Salahuddin Al Ayubi). Bola berhasil saya kuasai. Dalam kondisi saya menguasai bola itu seratus persen konsentrasi saya terfokus ke bola, sehingga mata saya tidak dapat melakukan reflek cepat untuk menghindar dari ayunan tangan Lolik yang akhirnya tangkai jari jempol kanannya menampik mata kanan saya dengan keras.
Seketika itu pula saya terjatuh dan setengah pingsan menahan rasa sakit yang saya rasakan. Saya menutp muka saya beberapa saat, saya mencoba membuka mata saya namun tak kuasa menahan rasa sakitnya. Berusaha saya buka ternyata hanya rasa sakit dan pandangan gelap dari mata kanan saya yang saya rasakan. Saya lihat beberapa teman yang mengerumuni saya berusaha menutup ekspresi mereka bahkan ada yang tak kuasa melihat karena dari bola mata kanan saya itu mengeluarkan darah. Saat itu pula ada yang berteriak “RumahSakit.. Rumah Sakit..!!” Lolik berusaha meminta maaf kepada saya, dia berada disamping saya sambil meyakinkan apa yang terjadi pada diri saya.
Saat itu pula dalam kondisi berkeringat basah dan lelah akibat latihan saya diantar teman senior saya Sujudi ke klinik dan menemui seorang Dokter. Kata dokter saya dianjurkan langsung ke Dokter mata, namun dia meyakinkan masih ada kesempatan untuk mata kanan saya untuk bisa melihat, karena dari tes menggunakan lampu sorot senter, saya masih merasakan kilauan cahaya.
Dalam perjalanan ke dokter mata saya muntah-muntah sampai beberapa kali. Tebakan saya mungkin saya ada gegar otak ringan. Ternyata bukan, muntah itu disebabkan karena terjadi goncangan di mata saya sehingga saya mengalami ganguan syaraf untuk mata kanan saya. Setibanya di dokter mata, saya langsung dipersilahkan masuk mendahului pasien lain yang telah antri. Saat itu saya tidak mampu untuk berjalan karena terasa mual, pusing dan keseimbangan saya hilang.
Oleh dokter mata saya dinyatakan mengalami pendarahan mata total. Saya wajib menjalani opname minimal selama seminggu dengan selalu merebahkan badan tanpa boleh mengangkat kepala sedikit pun. Di RS Kasih Ibu Solo saya dirawat kurang lebih selama 8 hari. Orang tua saya kirimi kabar lewat teman saya, dan teman-teman saya bergantian menjaga saya. Saya berhutang budi dengan mereka, Ayub, Heru, Anton, Sujudi, Mas Widodo teman kuliah saya Gufron, Hermawan, Endah dan rekan-rekan saya yang lain.
Selanjutnya saya hanya bisa terbaring di RS dengan kondisi lemah, di-infus, tidak bisa mengangkat kepala. Kata dokter, darah yang ada di bola mata kanan saya harus di hilangkan dengan obat, tetes mata dan salep mata. Setelah 3 hari menjalani perawatan, darah dipermukaan bola mata saya mulai berkurang, namun dari situ dokter mengatakan retina mata saya hampir putus karena goncangan bola mata saya, sehingga mata saya nampak sedikit bergeser ke kanan dan sangat rentan kebutaan jika sampai retina mata saya benar-benar putus. Saat itu saya takut sekali jika saya sampai mengalami kebutaan, karena sampai saat itu mata kanan saya masih belum bisa untuk melihat dan hanya bisa merespon kilauan cahaya. Saya diminta menunggu sampai pendarahan di semua belahan bola mata saya benar-benar bersih. Pak Halim Sugiarto, manager saya menyarankan untuk saya agar berobat ke Singapura, karena dia tidak yakin akan kemampuan dokter-dokter di Indonesia. Saya menolaknya karena saya hanya bisa pasrah kepada yang kuasa. Saya benar-benar shock waktu itu ditengah-tengah saya sedang giat berlatih basket.
Hari ketiga, empat, lima dan seterusnya saya mulai merasakan ada perubahan dimata saya. Saya mulai bisa melihat meski itu sangat tidak jelas. Sampai hari ketujuh saya memutuskan untuk keluar dari RS dan menjalani rawat jalan. Pertama kali bangun dari 8 hari berbaring saya tidak bisa berdiri dengan sempurna, layaknya anak kecil sedang belajar berdiri, kepala saya pening dan bumi seperti berputar-putar.
Beberapa minggu kemudian saya memutuskan untuk kontrol ke RS khusus mata di Yogyakarta di RS dr. Yap. Disana mata kanan saya di usg mata dan di tes dengan berbagai peralatan yang lebih canggih. Dokter di RS dr. Yap mengatakan retina mata saya tidak ada masalah, hanya sebelumnya memang tertutup gumpalan darah. Untuk selanjutnya saya memang tidak akan bisa melihat dengan sempurna karena goncangan akibat benturan yang cukup keras mengakibatkan pendarahan dan rusaknya beberapa syaraf mata. Mata kanan saya tidak bisa dibantu dengan kacamata karena tingkat minus, silinder dan kepekaan cahaya yang cukup signifikan perbedaannya dibanding dengan mata kiri saya yang normal. Hanya ada kemungkinan bisa dibantu sedikit dengan contact lens, itupun setelah kondisi organ bola mata saya benar-benar pulih normal.
Kurang lebih 3 bulan saya rutin kontrol ke Yogyakarta dan ke beberapa dokter mata di Solo dan terus mencari tetes mata atas rujukan dokter yang dianggap obat tepat uang paling tepat buat saya. Kata dokter tetes mata itu sangat jarang, kalaupun ada kemungkinan hanya dijual di Jakarta. Saya minta tolong kakak saya untuk mencarikan tetes mata itu di Jakarta namun dia tidak menemukannya. Saya bosan tiap kali kontrol mata saya hanya di berikan vitamin mata dan tetes mata biasa. Akhirnya saya putuskan untuk berhenti kontrol ke dokter.
Sampai saat ini saya masih mengunakan contact lens untuk membantu penglihatan mata kanan saya meski tetap saja tidak membantu hingga dapat melihat dengan normal.
Itulah cidera terparah yang pernah saya alami. Saya sangat shock atas kejadian itu, saya sempat putus asa. Atas dukungan teman-teman dan keluarga akhirnya saya bisa berlatih basket lagi setelah 3,5 bulan istirahat.
Saya ucapkan terimakasih kepada Pak Halim Sugiarto, manager saya waktu itu, rekan-rekan satu tim di Bhinneka Sritex Solo khusus nya Ayub yang telah mengurus saya tatkala saya ingin pub dan sebagainya, Heru (Mapot) atas kabar-kabar ke keluarga saya meski sempat dikira teroris, Anton, Sujudi, Mas Widodo dan sebagainya atas perhatiannya, teman-teman kuliah saya Gufron, Hermawan dan Endah yang telah mengurus surat izin saya, mengerjakan tugas-tugas kuliah dan sebagainya. Buat Lolik, saya tahu kamu tidak sengaja dan saya tahu kamu sangat menyesal kenapa harus memukul bola itu sehingga terkena mata saya, saya tahu kamu tidak sempat menjenguk saya karena waktu itu kamu sedang TC Sea Games. Terimakasih untuk Mr Li Su Zhao, karena dengan kejadian itu kita jadi dekat, itu modal saya saat saya bermain di Bimasakti Malang.
Terimakasih untuk semua dokter yang telah merawat saya, segenap pengurus Bhinneka, teman-teman kampus yang telah menjenguk, keluarga (khusus Ibu yang telah menungui saya dan mengantar ke Jogja), adik dan kakak saya yang saat itu mengirim Hp agar bisa memantau perkembangan saya di RS.
Ada yang bilang itu hanya cidera dalam olahraga, ada yang bilang saya apes, ada yang mensupport saya agar jangan berkecil hati, tapi yang jelas 12 Januari 2001 tak pernah terlupakan untuk saya.